Filosofi Pendakian

Filosofi Pendakian


Kalau lagi dapat jalan yang landai,ada sumber air,pemandangan menarik,apalagi ada tanaman yang bisa di makan
ya syukuri karena rejekinya,manfaatkan sebaik-baiknya dan jangan melampaui batas
jalanan terjal

jalanan terjal



kalau udah jalannya terjal,berdebu,berangin,berbatu,minim pijakan,minim tumpuan hawa panas atau dingin berkabut
memang sudah waktunya,percuma mengeluh dan menyalahkan alam,hanya memperburuk situasi
bahkan sebelum memulainya kita harus punya persiapan matang,baik dari mental,fisik,perbekalan,kesehatan

tapi naluri survival the power of kepepet pasti muncul untuk menyelamatkan diri pada kondisi terburuk sekalipun
dan ketika melihat kedepan,ternyata masih tampak jalanan yang menyulitkan

mau tetap diam di tempat
nyerah dan balik ke level awal
atau terus menempuh jalan?

setelah melalui itu semua,coba liat kebelakang
kita sadar bahwa hal yang menyenangkan baru saja kita lewati,kita merasa meskipun seru tapi tetap ada jalan di depan yang membentang jauh
kadang dapat kejadian buruk,kita merasa sulit melupakan,tak ingin terulang,karena sulit di lupakan,harus di ambil pelajarannya


bekal yang kita punya adalah nyawa selama perjalanan
membaginya dengan orang lain adalah suatu kebaikan
manajemen perbekalan jauh lebih penting dari itu semua

di perjalanan kadang kita ketemu orang lain,berbagi canda tawa,berbagi apa yang kita punya,nggak jarang berjodoh untuk sekedar menjadi relasi atau teman hidup
bisa juga akan tetap sendirian,termenung,mendengar suara alam,suara dalam diri,mencari tau,untuk apa sih kita di jalan ini,dan siapa kita sebenarnya.

menjelang hari berakhir,kalau sedang cerah kita melihat ayah matahari merayu sang anak-anak awan yang beriak
bersamaan itu,waktu untuk kita meletakkan diri pada peraduan bersama pelukan ibu rembulan.





jika keluarga langit itu berselimut awan,kita pun harus lebih hangat lagi berselimut
dan membagi kehangatan cerita dan minuman bersama teman
atau lagi-lagi harus di nikmati sendiri,jika sejak awal kita memang sudah sendirian
hanya riuh hujan yang menemani malam panjang di tengah gemericik saut menyaut penghuni asli alam itu.

pagi buta yang dingin menusuk tulang memaksa kita terbangun
alam memberi kesempatan memilih,apakah kembali di pangkuan malam yang menjelang berakhir
ataukah mengingatNya? kemudian bergegas menaklukan diri pada saat nafsu kenyamanan menggenggam kita
demi tujuan yang hampir tercapai

tak sedikit juga yang enggan menggapainya di karenakan beberapa hal

Jika berhasil,kita akan berada di puncak tertinggi
bagi kebanyakan orang,puncak tertinggi adalah ajang pembuktiannya
menunjukkan pada dunia akan pencapaian

Adapula yang menjadikannya untuk menikmati hasil karyaNya



Tapi sebagian orang lagi,mereka tetap merasakan,puncak tertinggi yang ia dapat hari ini
adalah masih titik terendah bagi orang lain yang sedang mendapat puncak tinggi versinya



di tempat tertinggi lah bencana paling dekat dengan kita
badai petir,kawah belerang,kabut yang menyesatkan,bebatuan tajam



Setinggi apapun kita berada,akan ada masanya kita kembali...ke bawah
jika yang sudah terbiasa di bawah,akan mudah untuknya kembali ke bawah
tapi bagi yang belum siap,akan sangat kesulitan
bahkan masih sukar untuk menerima keadaan yang memaksanya harus turun dari tempat tertingginya



In order to comment, please sign in

Comments


Loading


Right menu
Tag Cloud