How To Educate Children for Dummies

How To Educate Children for Dummies



Hampir setiap hari tanpa berkurang frekuensi pertengkaran aldo dan lala dalam metode mendidik anak mereka, sebab lala mengikuti tips psikolog bunda jaman now yang berkiblat pada kitab google, berbanding terbalik dengan aldo yang mengikuti orang tua jaman old dalam mendidik dirinya sewaktu kecil dulu, yang diantara lain :

Jika kitab sang bunda mengatakan anak tidak boleh di bentak, bagi pak aldo itu adalah kesalah besar sebab karakternya sekarang yang berwibawa ini adalah hasil stimulus bentakan bapaknya dari era orde baru hingga aldo tumbuh dan masuk di era reformasi

Dari yang tadinya kecil lalu membesar seperti teori almarhumah mak erot , rupanya hal tersebut berlaku menjadi sandungan rumah tangga mereka, tak jarang pasutri yang hampir genap 17 tahun berumah tangga tersebut sering kali saling mengintimidasi dengan kata pisah agar aldo bisa membawa si anak gadis dan lala membawa sang anak cowok berdasar kedekatan mereka pada pribadi masing-masing buah hati.

Alasannya, Aldo memberi contoh bahwa anak-anak pada zaman pra-milenium sangat patuh dan tunduk terhadap para orang tua, berkontradiksi dengan anak jaman now yang cenderung manipulative kebablasan susah di atur dan berani menentang aturan baku dari orang tua, yang makin ngelunjak dengan di aminkan oleh pendapat psikolog hari gini yang notabene memiliki wewenang ilmiah untuk urusan ngatur anak orang.

Argumen lala pun tak kalah menarik jika anak keseringan di bentak akan merusak sekian persen dari 2 milyar sel otak, termasuk merusak psikis sang anak menjadi mudah trauma untuk berekspresi, sehingga menyebabkan potensi kecerdasan anak menurun. Betapa dalam waktu singkat setelah membaca artikel internet yang multi faedah tersebut menjadikan lala top speaker dalam seminar parenting yang di gelar di auditorium ruang tamu rumahnya, dengan peserta tunggal sang suami.

Tak pelak sang kepala rumah tangga makin berang setelah lala berani mendalilkan riwayat shahih dari google di computer tablet yang me-listing beberapa pendapat seperti anak tidak boleh di pukul, biarkan anak bebas bermain leluasa ,jangan batasi pergaulan anak, tak perlu khawatir jika anak bermain di tempat kotor.

Aldo beranggapan apabila anak di biarkan bebas lepas tanpa rem dari orang tua akan menjadikan anak-anak di masa depan seperti bangsa Sparta yang sejak kecil tidak boleh di pukul atau di bentak tapi di pukul dan di maki oleh lawan tarungnya, bermain leluasa hingga ke hutan dan bertarung dengan serigala, tidak membatasi pergaulan anak meskipun dengan bangsa jin, tak peduli jika anak menjadi seorang adventurer such a street punk, yang tinggal di gedung tua kumuh tak beroperasi, yang membentuk karakter menjadi militant dan berperang demi nama baik geng dan kehormatan sahabat yang apabila pacarnya di rebut anggota geng/ sekolah lain, yang sudah jelas ancaman (maaf) tertancap parang di pipinya hingga mengakhiri statusnya sebagai anumerta street punk tanpa tanda merah putih di pusaranya

Perbedaan ideology ini sangat rentan menuntun mereka pada hal yang di benci Allah namun tetap di halalkanNya, kendati demikian merekalah yang memegang setir bukan lagi mereka yang di setir mertua masing-masing dalam hal mengasuh anak.

Perbedaan Standar Pendidikan Mental Anak

Saya sangat memahami bahwa pendidikan anak di lingkungan rumah sangat berpengaruh terhadap karakter bagi anak di usia 6 – 17 tahun dan itu harus benar-benar di kawal se ketat-ketatnya anak segitu masih kriteria bebas dari jeratan hukum loh. Bagaimana kalau anak segitu di depan ortunya lembut tapi di belakangnya jadi seperti valak ? Setan yang sudah tidak takut dengan doa dan Atribut ketuhanan, anak yang bandel tapi gak takut, sudah kebal kalau di ancam di adukan pada orang tuanya, lalu berbuat kejahatan kekerasan, merugikan orang lain, apa ya bisa mendapat hukuman yang adil? Paling alasannya karena anak di bawah umur jadi hanya sangsi social saja.

Dari sini sudah kebaca kalau para orang tua pun butuh educate pula dari orang berpengalaman, iya pengalaman dalam hal mengasuh anak, bukan dari yang berhasil menyelesaikan tesis melalui pengamatan perkembangan anak-anak yang lingkungan sosialnya berbeda, seperti pengamatan pada karakter anak-anak di Kenya untuk di terapkan anak-anak di Tiongkok, riset  untuk mendidik anak-anak di eropa (karena menempuh pendidikan di eropa) misal swedia which is (udah style anak jaksel belum?) pemerintahnya saja mendukung gerakan para ayah wajib cuti untuk quality time bersama anak.

Sangat bertolak belakang di Indonesia yang malah harus libur ikut demo hari buruh dari pada menjadi ayah sepenuhnya, lalu apabila ada orang tua yang mendidik dengan kasar karena anaknya rewel minta mainan dan orang tua tidak bisa membelikan, hingga tersiar live maupun viral di dunia maya, The Great Netijen yang bertipikal Lala diatas langsung menghujat membabi buta tanpa tedeng aling-aling atau hal yang melatar belakanginya.

Bagi anda yang mempelajari sesuatu yang sifatnya instan seperti membaca resep masakan atau mengutip hadits  di google sangat di haramkan apabila hanya membaca 1 artikel, tentu agar kuat landasannya harus didiskusikan dengan orang yang lebih pengalaman dari anda dan cari lagi sumber sebanyak-banyaknya, Apalagi tips mendidik anak, paling penting di perhatikan yaitu karakter Orang Tua nya dulu lalu si anak. Kalau ayah-ibu nya memang keras lalu anaknya keras ya artinya tinggal ‘ngaca’ dulu gimana ya cara orang tua ku mendidik waktu aku sekecil ini apalagi aku keras kepala?

Atau kalau perubahan sifat anaknya karena salah pergaulan demi kebaikan dia memang harus tegas, jangan seperti lala, kalau harus kasar ya apa boleh buat, kalau nggak mau kasar misalkan anaknya sudah mulai terjerumus pergaulan yang di ranah criminal, silahkan para orang tua budiman yang anti kekerasan laporkan saja anak sendiri ke koramil terdekat gak di hukum pidana/perdata memang tapi di didik militer seperti pengalaman penulis rela?

Jangan terlalu mengikuti negara yang secara social-budaya dimana lingkungan dan asupan gizi anak-anak tumbuh saja sudah berbeda jauh dengan di Indonesia, ada yang sampai memberi kebebasan anak sampai bablas dengan alibi berikan peran pada anak hingga berani membentak orang tua lalu si ortu cuma diem aja saat di bentak, inikah hasil yang di dapat di seminar parenting yang makin ke sini makin mengajarkan orang tua ngumbar si anak?

Hingga memberi celah pada anak agar mulai berani menentang cara-cara kolot orang tua terdahulu yang menurut mereka sudah tidak relevan lagi dengan karakter anak masa kini? Apa penting niru sinetron yang membiarkan anak-anak keluyuran tengah malam bawa motor mbonceng anak gandis orang? Seperti itukah buah hasil laku lembut dalam mendidik anak? Mana bisa kalau anak udah ngenal hal-hal demikian di tegur baik-baik le jangan keluar malem yo nak,bunda khawatir apalagi bawa motor, kan kamu juga belum punya SIM apa ya mempan cara-cara seperti ini?

Kalimat buah jatuh gak jauh dari pohon itu yang seharusnya jadi wallpaper di smartphone orang tua masa kini agar kalau mau bertindak kasar atau lembut ke anak bisa menimbang terlebih dahulu, seperti apa karakter anak yang di turunkan dari diri sendiri. Supaya gak melulu ngikutin nasihat psikolog google.

In order to comment, please sign in

Comments


Loading


Right menu
Tag Cloud